Tumpukan Uang Setengah Meter Kelilingi Makam Imam Ketujuh
Sabtu, 05 September 2009 – 04:45 WIB

BERDAKWAH- Moh Ali Aziz (kanan) bersama dua sahabatnya di kompleks makam Imam Khomeini di Iran.
Bagi saya, ini adalah kunjungan yang kedua setelah memenuhi undangan yang sama sebagai imam tarawih di Teheran pada 2008. Karena itu, tidak terlalu sulit bagi saya mencari beberapa masjid bersejarah bagi kaum Syiah di Teheran untuk melihat kegiatan mereka selama Ramadan.
"Ini Masjid Al-Kadhimi. Siapa ulama ini, Pak," tanya Afif, sopir -bujangan asal Jawa Barat yang menemani saya. Dia mengaku belum pernah mengunjungi masjid di Jalan Tajrisy, meskipun hampir tiga tahun di Teheran. Afif takut dicurigai sebagai mata-mata asing karena salatnya yang tidak sama dengan mereka.
Di tengah masjid dengan penjagaan ketat polisi dan beberapa satpam itu terdapat makam Imam Sholeh bin Musa al-Kadhimi. Imam yang wafat pada 799 M itu adalah imam ketujuh di antara 12 imam Syiah. Ibunya adalah seorang budak Afrika. Dia menjadi imam ketika berusia 21 tahun. Dalam sejarahnya, dia pernah dipenjara dan diracun oleh pemerintah Abasyiah pada abad kedelapan. "
Meski makamnya di Teheran, sebagian masyarakat Iraq meyakini al-Kadhimi wafat dan dimakamkan di Iraq. Sepeninggal beliau, putranya, Imam Ali ar-Ridha (Reza), menjadi imam kedelapan. Putrinya, Fathimah al-Ma'shumah (Hezret Fatimiyeh al-Ma'shumeh), menjadi wanita pujaan masyarakat Iran. Bahkan, makamnya yang berada di tengah masjid dengan nama dirinya di Mashad -sekitar 100 km dari Teheran)- hingga sekarang tidak pernah sepi dari peziarah. Begitu ramainya sehingga dalam pengamatan saya jauh lebih banyak daripada pengunjung makam Imam Khomeini.
Lebih dari sepekan sejak awal Ramadan, guru besar Institut Agama Islam Negeri Prof Dr Moh. Ali Aziz memenuhi undangan Kedutaan Besar Republik Indonesia
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara