Ubah Aturan Giro Wajib Minimum, BI Longgarkan Likuiditas Perbankan

Bila saat pendebitan saldo rekening giro bank tidak terpenuhi, seluruh sanksi tersebut dianggap sebagai kewajiban bank kepada Bank Indonesia dan dikenai sanksi sebagaimana pelanggaran GWM.
”Bila bank tidak memenuhi ketentuan GWM averaging selama masa transisi tidak dikenakan sanksi. Tapi, di bulan kedua sudah harus menjalankan GWM averaging,” tegas Dody.
BI meyakini GWM rata-rata sebagai best practice karena telah diterapkan seluruh bank sentral dunia.
Dengan mengurangi GWM, BI berharap pengurangan 1,5 persen GWM membuat likuiditas di sistem lebih merata melalui pasar uang antarbank, pasar repo antarbank, dan commercial paper (kredit modal kerja).
GWM juga bisa menjadi bantalan suku bunga (interest rate buffer) sehingga mengurangi volatilitas suku bunga di pasar uang.
Meski demikian, BI tetap mengizinkan bank menyimpan uang di Bank Indonesia.
Dody mengakui, ada sejumlah tantangan dalam penerapan aturan GWM averaging.
Di antaranya, sebaran surplus likuiditas di sistem perbankan yang tidak merata.
Bank Indonesia (BI) mengubah aturan giro wajib minimum (GWM) menjadi GWM primer rata-rata atau averaging.
- Jadi Bank Paling Terdepan, BTN Raih MSCI ESG Ratings AA
- Gandeng Schroders & Fullerton, BNI Luncurkan Layanan Wealth Management di Singapura
- Survei Ipsos Ungkap Bank Digital Paling Populer di Kalangan Anak Muda
- Pramono Dorong Peran Bank DKI Mengimplementasikan QRIS Tap NFC Bank Indonesia
- bank bjb Permudah Penukaran Uang Jelang Lebaran Lewat SERAMBI
- Cadangan Devisa Turun Tipis Dipengaruhi Pembayaran Utang Pemerintah