Virus Demam Babi Afrika Telah Menyebar Ke 22 Provinsi di China
Epidemi biasanya terkendali
Selain memusnahkan hewan, Kementerian tersebut juga melarang pemberian babi dengan sisa makanan, menghentikan pengangkutan babi hidup dari daerah yang terkena dampak, dan mengkarantina peternakan yang terkena dampak, tetapi virus itu masih berhasil menyebar.
Terlepas dari wabah yang cukup besar, kepala biro peternakan dan hewan di Departemen Pertanian dan Urusan Pedesaan, Feng Zhongwu, mengatakan situasinya masih terkendali.
"Wabah demam babi Afrika (ASF) saat ini di negara ini ditemukan di tempat-tempat yang tersebar, itu bukan pandemi," kata Feng.
"Epidemi umumnya terkendali."
Kementerian telah menganggap situasi ini "pada umumnya di bawah kendali" pada bulan September, ketika kasus ini baru teridentifikasi di lima provinsi.
Feng menambahkan bahwa "setiap wabah dimusnahkan dengan cepat, di-disinfeksi dan dibuat tak berbahaya" sementara penyelidikan dan analisis yang tepat telah dilakukan.
Ia mengatakan mayoritas wabah telah disebabkan oleh kegagalan untuk men-disinfeksi dengan benar kendaraan yang digunakan untuk mengangkut babi dari peternakan, atau melalui pemberian makan babi dengan sisa-sisa makanan di dapur.
Photo: Siomay babi Xiao long bao adalah makanan populer dari Shanghai. (Flickr: Avlxyz)
- Upaya Bantu Petani Indonesia Atasi Perubahan Iklim Mendapat Penghargaan
- Dunia Hari Ini: Tanggapan Israel Soal Surat Perintah Penangkapan PM Netanyahu
- Dunia Hari Ini: Warga Thailand yang Dituduh Bunuh 14 Orang Dijatuhi Dihukum Mati
- Biaya Hidup di Australia Makin Mahal, Sejumlah Sekolah Berikan Sarapan Gratis
- Rencana Australia Membatasi Jumlah Pelajar Internasional Belum Tentu Terwujud di Tahun Depan
- Dunia Hari Ini: Konvoi Truk Bantuan Untuk Gaza Dijarah Kelompok Bersenjata