Virus Demam Babi Afrika Telah Menyebar Ke 22 Provinsi di China

Epidemi biasanya terkendali
Selain memusnahkan hewan, Kementerian tersebut juga melarang pemberian babi dengan sisa makanan, menghentikan pengangkutan babi hidup dari daerah yang terkena dampak, dan mengkarantina peternakan yang terkena dampak, tetapi virus itu masih berhasil menyebar.
Terlepas dari wabah yang cukup besar, kepala biro peternakan dan hewan di Departemen Pertanian dan Urusan Pedesaan, Feng Zhongwu, mengatakan situasinya masih terkendali.
"Wabah demam babi Afrika (ASF) saat ini di negara ini ditemukan di tempat-tempat yang tersebar, itu bukan pandemi," kata Feng.
"Epidemi umumnya terkendali."
Kementerian telah menganggap situasi ini "pada umumnya di bawah kendali" pada bulan September, ketika kasus ini baru teridentifikasi di lima provinsi.
Feng menambahkan bahwa "setiap wabah dimusnahkan dengan cepat, di-disinfeksi dan dibuat tak berbahaya" sementara penyelidikan dan analisis yang tepat telah dilakukan.
Ia mengatakan mayoritas wabah telah disebabkan oleh kegagalan untuk men-disinfeksi dengan benar kendaraan yang digunakan untuk mengangkut babi dari peternakan, atau melalui pemberian makan babi dengan sisa-sisa makanan di dapur.

- Paus Fransiskus, Pemimpin Gereja Katolik yang Reformis, Meninggal Dunia pada Usia 88 tahun
- Dunia Hari Ini: PM Australia Sebut Rencana Militer Rusia di Indonesia sebagai 'Propaganda'
- Sulitnya Beli Rumah Bagi Anak Muda Jadi Salah Satu Topik di Pemilu Australia
- Rusia Menanggapi Klaim Upayanya Mengakses Pangkalan Militer di Indonesia
- Dunia Hari Ini: Siap Hadapi Perang, Warga Eropa Diminta Sisihkan Bekal untuk 72 Jam
- Rusia Mengincar Pangkalan Udara di Indonesia, Begini Reaksi Australia