Volendam, Desa Nelayan yang Menjadi Etalase Pakaian Tradisional Belanda
Pajang Foto Mega dan Gus Dur untuk Daya Tarik
Selasa, 19 Oktober 2010 – 07:07 WIB

Volendam, Desa Nelayan yang Menjadi Etalase Pakaian Tradisional Belanda
Walaupun sesaat, dengan pakaian dan aksesori tradisional tersebut, pengunjung bisa menangkap denyut masa lalu negeri Belanda. Awalnya, Volendam yang berada di Provinsi Nord Hollad itu merupakan sebuah pelabuhan di wilayah Edam yang terletak di muara Sungai Ije. Pada 1357, penduduk Edam menggali kanal pendek Zuiderzee dengan pelabuhan tersendiri. Lantas, pelabuhan aslinya ditutup dengan membuat bendungan.
Masyarakat yang tinggal di sekitar reklamasi bendungan itulah yang kemudian disebut Volendam yang secara harfiah berarti "Bendungan Penuh". Berdasar data terbaru (update 2005), penduduk desa yang layak disebut kota mini itu mencapai 21 ribu jiwa.
Posisi Volendam berada di bawah permukaan laut. Posisi geografis kota di Belanda yang diakhiri dengan kata "dam" memang lebih rendah dari permukaan laut. Misalnya, Rotterdam atau Amsterdam. Bahkan, permukaan tanah Amsterdam, kota terbesar di Belanda, rata-rata di posisi 2,5 meter di bawah garis permukaan laut.
Adanya bendungan membuat posisi Volendam tidak lagi berada di pinggir laut. Kota itu terletak di tepi danau air tawar, yang debit airnya berasal dari Sungai Rhein yang mengalir dari Jerman dan Swiss. Namun, karena orang Belanda tidak suka ikan air tawar, mereka memilih menangkap ikan di laut yang berjarak dua kilometer dari tepi bendungan.
Volendam hanya sekitar 20 kilometer dari Amsterdam. Dari kota itulah orang mengenal Belanda tempo dulu. Inilah cerita wartawan Jawa Pos Taufik Lamade
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara