Waktunya Regenerasi Tokoh Politik Bangsa
Oleh: Ghaffar Ramdi

Partispasi politik juga berkaitan erat dengan kesadaran politik.
Karena itu, ketika partisipasi politik yang baik dari warga negara terwujud, maka meningkat pula kepercayaan terhadap penyelenggara negara.
Di Indonesia pascareformasi tingkat partisipasi politik warga terus mengalami tren yang tidak baik, yaitu memperlihatkan gejala melemah dari waktu ke waktu.
Hal itu terjadi seiring dengan banyaknya warga yang tidak lagi menampakkan minat untuk berpartisipasi dalam politik, baik secara kualitas maupun kuantitas.
Tren penurunan tingkat partisipasi warga Indonesia di bidang politik dapat dilihat dari beberapa kali pemilihan umum yang telah dilaksanakan dengan terus bertambahnya orang-orang yang tidak mau menggunakan hak politiknya (golongan putih).
Penyebab minimnya partisipasi politik itu ialah sosok figur yang berpartisipasi dianggap tidak memberikan kinerja yang maksimal ketika sudah mendapati jabatan sebagai perpanjangan tangan rakyat nantinya, baik di bidang legislatif maupun bidang eksekutif.
Berdasarkan hal itu, dapat disimpulkan bahwa pengaruh figur yang berkontestasi di dunia politik Indonesia memiliki andil yang besar terhadap bagaimana tingkat partisipasi warga negara dalam politik.
Bisa jadi hal itu terjadi karena figur yang berpartisipasi hanya itu-itu saja, bahkan kebanyakan diwakili oleh pelaku politik yang sudah berumur lanjut.
Karena tokoh-tokoh politik yang ada rata-rata tidak muda lagi, perlukah dilakukan regenerasi?
- PSI DKI Kritik Pramono, Jangan Undang Warga dari Luar Kota Setelah Lebaran
- NasDem Menghormati Jika Jokowi Pilih Gabung PSI
- Apakah Jokowi Akan Bergabung dengan PSI? Begini Analisis Pakar
- Sinyal Jokowi Gabung PSI Makin Kuat, Golkar: Pasti Ada Hitungan Politik
- Menakar Potensi Kolaborasi Politik Jokowi dan PSI Menuju 2029
- Mudik Gratis, PSI Berangkatkan Ratusan Pemudik Naik Bus dan Kereta