Warga Australia di Shanghai Khawatir Dipisahkan dari Keluarga Mereka karena COVID

Ender Waters yang memiliki dua kewarganegaraan, Australia dan Amerika Serikat, tiba di Shanghai bulan September 2020 setelah sebelumnya pernah menjalani lockdown beberapa kali selama enam bulan di Melbourne.
Menurut guru bahasa Inggris tersebut, perbedaan besar antara lockdown di Shanghai dan Melbourne selain di Shanghai lebih ketat, adalah masalah pasokan makanan.
"Hal tersebut tidak pernah terjadi di Melbourne, kita selalu bisa belanja ke toko dan mendapatkan makanan," katanya.
Ender Waters mengatakan dia dan banyak keluarga warga asing dari negara-negara Barat menandatangani petisi menentang pemisahan keluarga namun petisi itu sudah dilarang ditempel setelah hanya dua hari.
Lockdown mulai memengaruhi bisnis asing
Pengusaha asal Australia Nicholas Oettinger sudah tinggal d Shanghai selama 15 tahun di mana dia memiliki usaha memproduksi pintu dan jendela rumah.
Dia mengatakan lockdown kali ini sangat berpengaruh kepada bisnis yang dimilikinya.
Menggambarkan dirinya sendiri sebagai ingin terus berbisnis di Tiongkok, dia sekarang mulai memikirkan untuk pindah.
"Saya mempertimbangkan untuk pindah tahun depan, dan memindahkan pabrik saya keluar dari Tiongkok." kata Nicholas.
Warga Australia yang sedang menjalani lockdown di kota Shanghai di Tiongkok mengatakan memisahkan anak-anak yang positif COVID dari orangtua mereka adalah tindakan yang
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi