Warga di Kawasan Penjarahan Minyak di Sumsel yang Hidup di Antara Pencemaran dan Kecemasan
Mengungsi Seminggu setelah Pipa Depan Rumah Bocor
Jumat, 12 Oktober 2012 – 01:08 WIB

Sungai simpang tungkal yang tercemar minyak akibat Illegal Taping di desa Simpang Tungkal, Kabupaten Musi Banyuasin , Minggu (7/12/12). Sungai ini tercemar sejak maraknya illegal taping di desa tersebut. Foto : Fedrik Tarigan/Jawa Pos
Lalu, mereka pindah ke Babat Supat, Banyuasin dan membuat batu bata. Usaha itu ternyata sukses. Saat ini mereka memiliki rumah cukup luas dan bisa menyekolahkan anak-anaknya.
Menurut catatan PT Elnusa Jambi, operator pipa Pertamina di jalur Tempino-Plaju, pencurian minyak itu berlangsung sejak 2009. Namun, saat itu baru muncul 12 kejadian. Desa-desa yang menjadi lokasi pencurian adalah Letang, Langkan, Babat (masing-masing dua kali kejadian), serta Sei Lilin, Sindang Marga, Lubuk Karet, Gajah Mati, Simpang Tungkal, dan Lubuk Lancang dengan sekali kejadian.
Seperti Yakub-Siti Rodiyah, warga di empat dusun yang masuk Desa Simpang Tungkal itu kebanyakan pendatang, terutama dari Jawa Tengah. Mereka memilih tak berurusan dengan para pencuri karena kerap diintimidasi.
"Mereka (para pencuri) bilang, kami tidak mengganggu warga. Tapi, kalau warga macam-macam, matek (mati)," ucap Solikhah yang berasal dari Salatiga, menirukan ucapan para pencuri.
Pencemaran akibat penjarahan minyak menyebabkan sumber air bersih sekaligus kesehatan warga terganggu. Mereka rata-rata tahu siapa pencurinya, tapi
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara