Warga Difabel Indonesia Gunakan Teknologi Digital untuk Bertahan di Tengah Pandemi

Warga Difabel Indonesia Gunakan Teknologi Digital untuk Bertahan di Tengah Pandemi
Agustina Lengkong dengan warung di rumahnya menjual kebutuhan sehari-hari di Toraja. (Supplied)

Menurut Andika kebutuhan rumah tangganya berkisar antara Rp700 ribu sampai Rp1,5 juta per bulan dan kadang dari penjualan karak tidak mencapai penghasilan untuk belanja bulanan bagi keluarganya.

"Dulu saya pernah dapat bantuan dari Pemerintah, namun hanya dua kali. Sekarang sudah tidak lagi," kata Andika yang pernah ke Adelaide di tahun 2015 mengikuti program OzAsia festival untuk pameran mengenai Batik dan diabilitas.

Sekarang dia merasa beruntung sudah memiliki rumah yang dibangun atas bantuan desa di Kongklangan, Tawangsari Teras, Boyolali, Jawa Tengah.

Rumah tersebut adalah bantuan dari Komunitas Masyarakat Tawangsari (Komasta).

"Tapi baru sebatas dinding saja, belum ada jendela, belum ada listrik, masih banyak kekurangan. Kalau nanti ada rezeki, akan saya pasang jendela, pasang listrik," kata Andika lagi.

Dalam berjualan, Andika menggunakan sepeda roda tiga yang khusus dibuat untuk difabel.

Saat mengendarai motor roda tiganya di jalanan umum yang ramai di mana dia harus berinteraksi dengan pengguna jalan lainnya, ia mengaku kerap kesulitan.

"Dulu saya tidak bisa naik motor, namun setelah berkeluarga saya harus bisa. Walau juga saya pernah nabrak, pernah jatuh ke sawah bersama dengan motornya.

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik 2019, jumlah difabel di Indonesia adalah 21,5 juta orang atau sekitar 8 persen dari populasi Indonesia

Sumber ABC Indonesia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News