Warga Indonesia Memilih Hadapi Pandemi Corona dengan Semangat Gotong Royong

Lewat unggahannya di Twitter, Budhi juga mendapat banyak masukan soal pembuatan baju APD, mulai dari modul pembuatan, pola, sampai standar kualitas bahan yang disyaratkan WHO.

"Saat saya baca dan pelajari, memang ternyata rumit. Tapi bisa dikerjakan," ucapnya yang juga keluar-masuk toko kain untuk menemukan bahan yang sesuai.
Prototipe baju hazmat kemudian dibawa Budhi ke para dokter untuk dicoba, sambil menerima masukan untuk menyempurnakan baju hazmat jahitannya.
"Setelah semua dokter … menyatakan, 'oke, [baju] ini sudah aman dan nyaman digunakan' barulah saya mulai memproduksi dalam jumlah banyak untuk disumbangkan kepada para tenaga kesehatan di Yogya," ujarnya.
Untuk pengujian kualitas dan keamanan, Budhi juga sudah mengirimkan baju jahitannya ke Pusat Pencegahan Penyakit Menular dan Balai Besar Tekstil milik Kementerian Perindustrian.
Sudah melibatkan 62 penjahit
Budhi menilai sebenarnya tugas negara untuk memastikan ketersediaan APD, sebagai 'alat perang' bagi para tenaga kesehatan ini di seluruh pelosok Indonesia.
Tapi ia memilih untuk membuat baju hazmat dengan keterlibatan komunitas Majelis Mau Jahitin (Mamajahit).
Gotong royong, salah satu identitas budaya bangsa Indonesia, telah membuktikan sebagai modal bersama dalam menghadapi pandemi virus corona
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Gempa Myanmar, Indonesia Kirim Bantuan Tahap Tiga
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana