Warga Indonesia Memilih Hadapi Pandemi Corona dengan Semangat Gotong Royong

"Saat sarapan gratis itu kami juga sambil berusaha mengedukasi warga untuk lebih memperhatikan kesehatan mereka," ujar Claudia yang juga memberlakukan aturan jaga jarak saat sarapan gratis berlangsung.
Meskipun sudah ada kebijakan menjaga jarak dan pemberlakuan PSBB, Claudia merasa banyak warga yang memang masih merasa ragu.
"Memang ada orang yang merasa kebutuhan lainnya lebih penting. Bagaimana mau PSBB atau physical distancing ya, kalau misalnya mereka harus cari uang?" tambah Claudia merujuk kepada orang-orang tidak mampu yang kerap dibantunya.
Claudia mengaku pernah mendengar beberapa cerita jika tidak semua orang menerima bantuan utuh dari pemerintah, tapi itu bukan menjadi fokusnya.
"[Saya] enggak mau ngurusin yang itu. Aku sama temen-temen sartis memilih melakukan apa yang bisa kita lakukan, itu aja akhirnya," tandasnya.
Solidaritas warga mengisi kekosongan negara
Inisiatif yang dilakukan oleh Claudia Lengkey, Budhi Hermanto, Herlambang, dan berbagai kegiatan lainnya yang banyak terlihat di jejaring sosial saat ini mengingatkan bangsa Indonesia pada prinsip gotong-royong.
Menurut Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Hamdi Moeloek, solidaritas atau gotong-royong sebenarnya adalah jati diri bangsa, yang dimiliki setiap suku di Indonesia.
"Ini sebenarnya modal sosial yang harus terus menerus dipupuk oleh bangsa Indonesia," ujar Hamdi, dikutip dari Liputan6.com
Gotong royong, salah satu identitas budaya bangsa Indonesia, telah membuktikan sebagai modal bersama dalam menghadapi pandemi virus corona
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Gempa Myanmar, Indonesia Kirim Bantuan Tahap Tiga
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana