Warga Tionghoa Sering Terlepas dari Keluarganya Ketika Memeluk Islam

Ia mengatakan bahwa kini, saudara laki-laki kandungnya sendiri bahkan berkonsultasi kepadanya tentang keterampilan bisnis.
"Meski mereka belum masuk Islam, mereka memiliki penilaian yang lebih baik tentang Islam sekarang," ujar Syafi'i.
Doktor bidang perbankan dan ekonomi Islam dari Melbourne University ini tidak berbicara dalam bahasa Mandarin, pun mempraktekkan unsur budaya Tionghoa dalam kesehariannya.
Dalam penuturannya kepada Wai Weng, Syafii berharap agar pendakwah Tionghoa bisa melampaui identitas etnis mereka.
Kisah Syafi'I hanyalah satu dari beberapa Tionghoa Muslim yang menjadi subyek penelitian Wai Weng dalam bukunya.
Tokoh lain yang menjadi sumber Wai Weng adalah Anton Medan, mantan narapidana (napi) narkoba yang dulunya juga terkenal sebagai preman dan kerapkali keluar-masuk penjara akibat tindakan kriminalnya.
Anton, yang bernama Tionghoa 'Tan Hok Liang', masuk Islam tahun 1992, setelah bebas untuk terakhir kalinya dari jeruji besi. Berbeda dari Syafi'I, pria yang bernama Muslim 'Muhammad Ramadan Effendi' ini fasih berbicara Hokkian dan sedikit Mandarin.
Anton juga sudah dijauhi keluarga bahkan sebelum ia memeluk Islam dan hijrah ke Jakarta, tepatnya ketika ia bebas dari masa hukuman pertamanya di Medan.
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana