Warga Tionghoa Sering Terlepas dari Keluarganya Ketika Memeluk Islam


Sementara itu, antropolog lulusan Univeristas Nasional Australia (ANU), Muhammad Adrin Sila mengatakan, di era Orde Baru ada desakan terbuka agar warga etnis Tionghoa berasimilasi dengan penduduk asli yang salah satunya diwujudkan dengan beralihnya mereka ke agama samawi.
"Apakah harus menjadi Muslim? Itu tidak menjadi solusi satu-satunya agar supaya etnis Tionghoa itu bisa diterima sepenuhnya oleh masyarakat Indonesia."
"Karena ternyata di kalangan Muslim sendiri ada keberagaman di dalam keberislaman mereka. Berislam itu hanya satu cara untuk diterima sebagai bagian dari masyarakat Indonesia," jelas peneliti di Kementerian Agama ini.
Tak memutus hubungan keluarga
Thung menjelaskan identitas Tionghoa agak sulit dilepaskan karena hal itu erat kaitannya dengan pertalian keluarga. Dalam beberapa aspek, budaya China yang dipraktekkan etnis Tionghoa dan kental dengan ajaran Konghucu, bertentangan dengan agama samawi.
Namun pertentangan itu tak membuat seorang Tionghoa yang telah memeluk agama samawi terputus benar-benar dari keluarganya.
"Jarang di keluarga China itu bisa dikeluarkan 100 persen hanya karena beda agama," kata Thung.
Hubungan keluarga yang putus di etnis Tionghoa, sejak dahulu, terjadi ketika seorang anak sudah melakukan kejahatan yang memalukan orangtua.
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana